Kabarminang – Pemerintah Kota Pariaman terus mendorong pelestarian Baju Kuruang Basiba sebagai salah satu warisan budaya Minangkabau. Upaya tersebut diwujudkan melalui Karnaval Baju Kuruang Basiba yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Literasi Budaya Tahun 2026.
Karnaval tersebut dilepas Bunda Literasi Kota Pariaman, Yosneli Balad, dari Halaman Balai Kota Pariaman, Minggu (4/10/2026).
Yosneli mengatakan dirinya merasa bangga dapat berada di tengah Bundo Kanduang, pendidik, pegiat literasi, orang tua, anak-anak, serta generasi muda yang mengenakan Baju Kuruang Basiba.
“Hari ini, mata dan hati kita dimanjakan oleh keindahan dan keturunan keanggunan warisan leluhur kita. Melalui Karnaval Baju Kuruang Basiba yang dilaksanakan sebagai bagian dari Festival Literasi Budaya, kita tidak hanya sedang menyaksikan sebuah parade busana adat, tetapi sedang membaca kembali lembaran-lembaran sejarah dan nilai-nilai luhur bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, Baju Kuruang Basiba tidak sekadar menjadi pakaian adat. Pakaian tersebut memiliki nilai dan filosofi yang berkaitan dengan keanggunan, martabat, kerendahan hati, serta kehormatan perempuan Minangkabau.
“Baju Kuruang Basiba bukan sekadar pakaian. Di dalam lipatan ketiaknya (basiba), dalam garis potongannya yang lapang dan santun, tersimpan makna keanggunan, martabat, kerendahan hati, serta kehormatan seorang perempuan Minangkabau,” katanya.
Ia menilai pelestarian Baju Kuruang Basiba juga merupakan bagian dari literasi budaya. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memahami makna simbol-simbol kearifan lokal agar warisan budaya tersebut tidak tergerus perkembangan zaman.
“Inilah bentuk nyata dari Literasi Budaya, kemampuan untuk memahami, memaknai, dan melestarikan simbol-simbal kearifan lokal agar tidak tergerus oleh zaman,” ujarnya.
Yosneli menambahkan, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks di atas kertas maupun layar digital. Menurutnya, literasi juga mencakup kemampuan membaca kehidupan, mengenal identitas, dan menjaga warisan budaya.
“Literasi bukan hanya tentang membaca teks di atas kertas atau layar digital. Literasi adalah cara kita membaca kehidupan, mengenal identitas, dan merawat warisan budaya. Ketika anak-anak dan generasi muda kita memakai dan menyaksikan Baju Kuruang Basiba ini, mereka sedang belajar memahami nilai kepatutan dan kebanggaan akan jati dirinya,” tambahnya.
Karnaval tersebut diikuti sejumlah organisasi, siswa SMP dan SMA, Persatuan Guru SD, guru PAUD di Kota Pariaman, serta Bundo Kanduang Kanagarian Pauh Kambar, Kabupaten Padang Pariaman.
Kegiatan itu turut dihadiri Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Pariaman Ny. Dina Mulyadi, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Pariaman Ny. Nelvia Azhar, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Pariaman.
Yosneli menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia berharap pelestarian budaya dapat terus dilakukan melalui keterlibatan masyarakat dan generasi muda.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, peserta, tokoh adat, serta masyarakat yang hadir dan berpartisipasi dengan penuh semangat. Mari kita berjalan bersama, membawa kebanggaan budaya, memancarkan nilai kesantunan, dan membumikan literasi di setiap jengkal kehidupan masyarakat kita,” tutupnya.




















