Kabarminang – Petatah-petitih bukan sekadar rangkaian kata yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya tersimpan cara berpikir, nilai kesopanan, serta pandangan hidup masyarakat Minangkabau yang terus dijaga melalui tradisi lisan.
Nilai itulah yang kembali dihidupkan dalam Festival Literasi Budaya 2026 di Kota Pariaman. Sebanyak tujuh tim dari empat kecamatan mengikuti Lomba Petatah Petitih Antar-Bundo Kanduang se-Kota Pariaman yang digelar Forum Pegiat Literasi Kota Pariaman (FPLKP) di Aula Balai Kota Pariaman, Sabtu (3/10/2026).
Wali Kota Pariaman Yota Balad hadir dalam kegiatan tersebut sekaligus membuka perlombaan. Namun, lebih dari sekadar sebuah perlombaan, kegiatan ini menjadi ruang bagi Bundo Kanduang untuk mempertahankan salah satu bentuk warisan lisan Minangkabau yang semakin penting dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Dalam adat Minangkabau, kemampuan menyampaikan petatah-petitih bukan hanya perkara kefasihan berbicara. Cara memilih kata, menyusun ungkapan dan menyampaikan pesan mencerminkan akal, budi pekerti serta pemahaman terhadap nilai-nilai adat.
Yota Balad mengatakan kebudayaan Minangkabau merupakan warisan luhur yang memiliki kekayaan nilai. Salah satu keunikannya tercermin dalam seni berbicara melalui petatah-petitih yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.
“Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi untuk mencari siapa yang paling fasih berbicara adat. Lebih dari itu, ini adalah wadah pelestarian, regenerasi, dan pembentukan karakter bagi generasi muda kita,” terang Yota Balad.
Menurutnya, tradisi seperti petatah-petitih memiliki peran penting dalam menjaga agar perkembangan zaman tidak membuat generasi muda kehilangan akar budayanya. Modernitas, kata dia, tetap dapat berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap adat dan nilai yang diwariskan.
“Kita ingin melahirkan generasi muda yang modern secara pemikiran, namun tetap memegang teguh prinsip ‘Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah’,” lanjutnya.
Lomba tersebut diikuti tujuh tim yang mewakili empat kecamatan di Kota Pariaman. Para peserta membawa kemampuan dan pemahaman mereka terhadap petatah-petitih ke dalam sebuah ruang yang bukan hanya menguji kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana nilai-nilai adat disampaikan kepada orang lain.
Bagi Bundo Kanduang, tradisi semacam ini memiliki posisi penting karena mereka menjadi salah satu bagian dari masyarakat yang berperan dalam menjaga nilai adat dan budaya di tengah keluarga serta lingkungan sosial. Karena itu, pelestarian petatah-petitih tidak berhenti pada kemampuan menghafalkan ungkapan, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan ini sekaligus mendukung misi kelima Pemerintah Kota Pariaman di bawah kepemimpinan Balad-Mulyadi, yakni membangun ketahanan budaya dan pariwisata yang berlandaskan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Festival Literasi Budaya 2026 tersebut turut dihadiri Bunda Literasi Kota Pariaman Ny. Yosneli Balad, Ketua Umum FPLKP Kota Pariaman Rizki Mirdani, Ketua Bundo Kanduang Kota Pariaman Mawarniati Fatma, para camat serta peserta lomba.
Melalui kegiatan tersebut, petatah-petitih ditempatkan bukan sebagai peninggalan masa lalu yang hanya diingat ketika ada kegiatan adat. Tradisi lisan itu kembali digunakan sebagai ruang untuk memahami bagaimana masyarakat Minangkabau menyampaikan nasihat, membangun hubungan sosial dan meneruskan nilai kehidupan.
Pada akhirnya, tantangan pelestarian budaya bukan hanya menjaga agar sebuah tradisi tetap ada, tetapi memastikan generasi berikutnya memahami makna di balik tradisi tersebut. Petatah-petitih akan tetap hidup ketika ia tidak hanya dihafalkan, tetapi dipahami dan digunakan dalam kehidupan.
Di tengah perubahan zaman, upaya menjaga warisan semacam inilah yang membuat budaya tidak berhenti sebagai kenangan. Ia terus diwariskan melalui kata, dipahami melalui makna, dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.



















