Kabarminang – Langit Payakumbuh mungkin masih terlihat biasa, tetapi udara yang dihirup warga pada Sabtu (5/9/2026) menyimpan peringatan. Kualitas udara di kota itu tercatat berada pada kategori tidak sehat, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 57,5 mikrogram per meter kubik.
Berdasarkan data pemantauan IQAir pada pukul 10.00 WIB, indeks kualitas udara atau AQI di Payakumbuh berada di angka 152. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dan menunjukkan tingginya konsentrasi polutan udara yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Konsentrasi PM2.5 di Payakumbuh tercatat mencapai 57,5 µg/m³.
Angka itu jauh melampaui nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam keterangan IQAir, konsentrasi PM2.5 yang terpantau di Payakumbuh saat ini mencapai 11,5 kali nilai panduan PM2.5 tahunan WHO.
Kondisi tersebut membuat kualitas udara di Payakumbuh perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pada saluran pernapasan.
Data prakiraan IQAir juga menunjukkan kondisi kualitas udara belum sepenuhnya membaik dalam beberapa hari ke depan. Pada Sabtu, indeks kualitas udara Payakumbuh diperkirakan berada di angka 140, kemudian turun menjadi 129 pada Minggu (6/9/2026).
Namun, kondisi diproyeksikan kembali memburuk pada Senin (7/9/2026). Indeks kualitas udara diperkirakan mencapai 159, masih berada dalam kategori tidak sehat.
Sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra, terutama Riau, terus menjadi perhatian. Sepanjang 2026, luas lahan yang terbakar di Riau tercatat telah mencapai 18.770 hektare.
Meski demikian, diperlukan analisis lebih lanjut dari instansi berwenang untuk memastikan faktor yang menyebabkan memburuknya kualitas udara di Payakumbuh, termasuk kemungkinan pengaruh pergerakan massa udara dan sebaran asap dari wilayah lain.
















