Kabarminang – Perdebatan mengenai pembangunan Jalan Tol Padang–Bukittinggi–Payakumbuh selama ini kerap dikaitkan dengan penolakan masyarakat terhadap proyek tersebut. Namun, hasil riset Universitas Andalas (Unand) menunjukkan gambaran yang berbeda. Masyarakat dinilai tidak menolak kehadiran jalan tol, tetapi lebih mempertanyakan penentuan trase yang melintasi tanah ulayat ketika masih tersedia alternatif jalur lain.
Temuan tersebut disampaikan Ketua Pusat Riset dan Pengembangan Transportasi Universitas Andalas, Yosritzal, yang menilai persoalan jalan tol di Sumatera Barat tidak bisa dipandang semata sebagai tarik-menarik antara pembangunan dan masyarakat adat. Menurutnya, tantangan utamanya adalah bagaimana menghadirkan pembangunan yang tetap menghormati ruang hidup serta nilai budaya masyarakat Minangkabau.
“Pembangunan infrastruktur menuntut keseimbangan antara manfaat ekonomi, keadilan sosial, dan penerimaan masyarakat karena jalan tol melintasi ruang yang memiliki sejarah serta nilai budaya,” ujar Yosritzal beberapa waktu lalu, dikutip Jumat (7/8/2026).
Hasil Riset terhadap 225 Pengguna Jalan
Yosritzal mengungkapkan penelitian yang dilakukan terhadap 225 pengguna mobil pribadi di koridor Padang–Padang Panjang menunjukkan masyarakat pada dasarnya terbuka terhadap pembangunan jalan tol.
Menurutnya, penerimaan tersebut sangat dipengaruhi manfaat yang dirasakan pengguna, terutama penghematan waktu perjalanan dibandingkan tarif yang harus dibayar.
Ia menjelaskan, pada ruas Padang–Sicincin, sebagian responden masih menilai efisiensi waktu perjalanan belum cukup besar sehingga lebih memilih tarif sekitar Rp30 ribu dibandingkan simulasi tarif Rp50.500 yang dianggap cukup berat untuk mobilitas harian.
Meski demikian, Yosritzal menilai manfaat ekonomi jalan tol akan semakin terasa apabila jaringan tersebut tersambung hingga Bukittinggi, Payakumbuh, bahkan Riau.
“Nilai strategis tol baru terasa maksimal saat koridor tersambung hingga Bukittinggi, Payakumbuh, dan Riau untuk menurunkan biaya logistik serta memperkuat ekonomi daerah,” katanya.
Persoalan Utama Ada pada Trase
Menurut Yosritzal, keberatan yang muncul di tengah masyarakat lebih banyak berkaitan dengan penentuan jalur pembangunan dibandingkan keberadaan jalan tol itu sendiri.















