Kabarminang – Koridor Jalan Nasional Padang–Bukittinggi di kawasan Lembah Anai kembali mengalami gangguan akibat tanah longsor yang terjadi di KM 66+700 pada Rabu (24/6/2026). Peristiwa tersebut menyebabkan lumpuhnya jalur utama transportasi di Sumatra Barat dan kembali menyoroti tingginya tingkat kerentanan kawasan tersebut terhadap bencana.
Insiden terbaru ini menambah daftar bencana yang melanda Lembah Anai dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, kawasan tersebut diterjang galodo pada Mei 2024 serta kombinasi banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025.
Rentetan kejadian itu memunculkan desakan agar pemerintah dan otoritas terkait segera mengubah strategi penanganan bencana. Pendekatan darurat yang selama ini dinilai hanya bersifat sementara dianggap belum mampu menyelesaikan akar persoalan.
Praktisi Geographic Information System (GIS) sekaligus Pengamat Kebencanaan Sumatra Barat, Timtim Deby Purnasebta, menilai kerentanan di jalur Lembah Anai bersifat permanen dan bukan sekadar kejadian insidental.
“Kita harus mengubah cara berpikir dari sekadar reaktif menjadi preventif. Indikator keberhasilan mitigasi tidak boleh hanya diukur dari seberapa cepat alat berat membersihkan longsoran dan memulihkan lalu lintas, melainkan dari bagaimana risiko dikenali dan dikelola sebelum bencana melanda,” ujar Timtim, Senin (6/7/2026).
Menurut Timtim, kondisi geomorfologi Lembah Anai yang kompleks menjadi faktor utama tingginya risiko bencana di wilayah tersebut. Jalur nasional itu berada di lereng curam Pegunungan Bukit Barisan yang terus mengalami proses pelapukan batuan serta gangguan sistem drainase. Curah hujan tinggi disebut menjadi pemicu utama terjadinya longsor.
Selain ancaman dari lereng, posisi jalan yang berada di dekat Sungai Batang Anai juga meningkatkan risiko kerusakan. Sungai tersebut menampung aliran air dari tiga kawasan hulu gunung aktif, yakni Marapi, Singgalang, dan Tandikek.
Saat hujan deras terjadi di wilayah hulu, debit sungai meningkat secara signifikan dan membawa material yang berpotensi merusak. Aliran deras itu secara terus-menerus mengikis pondasi jalan dan meningkatkan ancaman terhadap badan jalan.
















