Kabarminang – Keindahan Ngarai Sianok, Danau Singkarak, hingga Air Terjun Lembah Anai ternyata menyimpan cerita panjang tentang aktivitas Sesar Sumatera yang masih aktif hingga kini. Bentang alam yang menjadi ikon wisata di Sumatera Barat itu terbentuk melalui proses geologi yang berlangsung selama jutaan tahun.
Fakta tersebut akan diperkenalkan lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan Susur Jalur Sesar yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang pada 27–28 Juni 2026.
Kepala UPT BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang, Suaidi Ahadi, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana gempa bumi sekaligus memperkenalkan nilai geologi yang dimiliki kawasan-kawasan di sepanjang jalur Sesar Sumatera.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya diajak mengenali ancaman bencana, tetapi juga melihat bagaimana bentang alam yang terbentuk akibat aktivitas sesar dapat berkembang menjadi destinasi wisata sekaligus sumber penggerak ekonomi daerah.
“Kami ingin masyarakat memahami potensi ancaman di lingkungan mereka, lalu mengubah sudut pandang tersebut menjadi peluang ekonomi baru, seperti pengembangan konsep geowisata,” kata Suaidi, Selasa (23/6/2026).
Dalam kegiatan itu, BMKG menggandeng komunitas Indonesia Offroad serta berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bukittinggi, Pemerintah Kota Padang Panjang, dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar.
Perjalanan edukasi akan dimulai dari Ngarai Sianok, yang menjadi salah satu lokasi penting untuk menjelaskan proses terbentuknya Sesar Sianok. Tim ahli akan menyampaikan penjelasan menggunakan metode storytelling sehingga peserta dapat memahami proses geologi secara lebih mudah.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Masjid Koto Gadang, lokasi yang masih menyimpan bukti visual aktivitas patahan bumi. Di kawasan tersebut, peserta akan diajak melihat secara langsung jejak pergeseran sesar yang masih dapat dikenali pada bentang alam maupun struktur di sekitarnya.
“Edukasi langsung di lapangan akan membuat masyarakat lebih mudah memvisualisasikan bagaimana sesar bergerak dan memengaruhi lingkungan di sekitarnya,” ujar Suaidi.
Perjalanan berikutnya berlanjut ke kawasan Koto Baru, Kabupaten Tanah Datar. Di lokasi ini peserta akan mengamati lima telaga kecil, Air Terjun Lembah Anai, serta sejumlah mata air panas yang merupakan manifestasi aktivitas geologi di sepanjang jalur Sesar Sumatera.
Menurut Suaidi, lima telaga di kawasan tersebut merupakan bentuk awal amblesan tanah akibat aktivitas patahan. Dalam proses geologi yang berlangsung sangat lama, kawasan itu diperkirakan berpotensi berkembang menjadi danau yang lebih besar.
Rangkaian kegiatan akan ditutup di Danau Singkarak, yang disebut sebagai contoh bentang alam pada fase matang hasil pergerakan Sesar Sumatera selama jutaan tahun. Kini, danau terbesar di Sumatera Barat itu menjadi salah satu destinasi wisata unggulan sekaligus penopang aktivitas ekonomi masyarakat.
“Danau Singkarak adalah bukti nyata fase matang dari aktivitas sesar yang kini justru menjadi ikon wisata dan penggerak ekonomi Sumbar,” kata Suaidi.
Seluruh rangkaian Susur Jalur Sesar akan didokumentasikan menggunakan kamera darat dan drone. Dokumentasi tersebut nantinya akan diolah menjadi materi edukasi kebencanaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara lebih luas.
Sebagai penutup, peserta akan mengikuti kegiatan camping ground di kawasan Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar. Selain menjadi ajang kebersamaan, kegiatan itu juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi dan evaluasi mengenai mitigasi bencana serta potensi pengembangan geowisata di sepanjang jalur Sesar Sumatera.
















