Kabarminang — Suasana Lebaran Korong Paninjauan, Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya, Agam, selalu punya warna tersendiri. Di tengah gema takbir dan silaturahmi, masyarakat setempat disuguhkan dengan tradisi khas bernama Simuntu. Simuntu adalah arak-arakan warga berkostum yang terbuat dari daun pisang kering dan ijuk yang berkeliling dari rumah ke rumah.
Tradisi itu menjadi tontonan sekaligus hiburan rakyat yang hanya muncul setahun sekali, tepat pada momentum Idulfitri. Warga, terutama anak-anak dan remaja, bertransformasi menjadi sosok “liar” yang unik, mengenakan balutan daun pisang kering yang dirangkai menutupi tubuh, bahkan sebagian menggunakan ijuk untuk menambah kesan mistis dan eksotik.
Dengan iringan alat musik tradisional tambua yang ditabuh ritmis, rombongan Simuntu berjalan kaki menyusuri kampung. Mereka singgah dari satu rumah ke rumah lainnya, disambut tawa dan antusias warga yang kemudian memberikan uang secara sukarela sebagai bentuk apresiasi.
“Ini sudah tradisi turun-temurun di kampung kami. Setiap Lebaran pasti ada Simuntu. Anak-anak sangat menunggu momentum ini karena bisa ikut serta dan merasakan kebersamaan,” kata Rudi (45 tahun), warga Paninjauan, pada Jumat (20/3/2026).
Menurut Rudi, Simuntu bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari identitas budaya masyarakat Paninjauan yang harus terus dijaga. Ia menilai bahwa tradisi itu mampu mempererat hubungan sosial antarwarga, terutama dalam suasana Lebaran yang penuh makna silaturahmi.
Hal senada disampaikan Diana (32), warga lainnya, yang mengaku selalu menantikan arak-arakan Simuntu setiap tahun. Ia mengatakan bahwa suasana kampung terasa lebih hidup dan meriah saat rombongan tersebut melintas.
“Kalau sudah ada suara tambua, anak-anak langsung keluar rumah. Kami juga senang memberikan sedikit uang, istilahnya berbagi rezeki di hari yang fitri. Ini yang bikin Lebaran di sini beda,” ujarnya.
Di tengah arus modernisasi, tradisi Simuntu tetap bertahan karena dukungan masyarakat yang masih kuat memegang nilai-nilai adat dan kebersamaan. Meski sederhana, tradisi itu menjadi daya tarik tersendiri, bahkan bagi perantau yang pulang kampung.
Simuntu bukan hanya soal kostum unik dari alam, melainkan juga tentang semangat gotong royong, kreativitas, dan kegembiraan kolektif yang menyatu dalam perayaan Lebaran. Warisan budaya yang terus hidup di tepian Danau Maninjau itu mengingatkan kita bahwa tradisi lokal tetap punya tempat di hati masyarakat.
















