Kabarminang – Hidup Salmon Saroni Sarumaha (38) berubah drastis sejak kecelakaan kerja yang menimpanya di gudang PT Sumber Utama Mandiri (SUMA) pada Senin (8/7/2025). Pekerja harian lepas itu kini kehilangan kemampuan berjalan akibat kedua kakinya hancur, sementara hak-hak perlindungan ketenagakerjaannya justru diabaikan perusahaan.
Peristiwa nahas itu terjadi di gudang PT SUMA yang berlokasi di Jalan Kampung Nias No 6, dekat JEE Hire Studio, Kota Padang. Saat sedang melakukan aktivitas bongkar muat, tubuh Roni sapaan akrab Salmon tertimpa musibah. Kaki kanannya hancur total, sementara kaki kirinya retak parah dengan tumit dan engsel patah.
“Sejak hari itu hidup saya tidak lagi sama. Untuk berdiri saja tidak bisa, apalagi bekerja,” ungkap Roni dengan suara tertahan saat ditemui wartawan di rumah sederhananya di Perumahan Cinta Kasih, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
BPJS Tolak Klaim, Roni Terjerat Utang Rumah Sakit
Usai kecelakaan, PT SUMA hanya menanggung biaya operasi pertama sebesar Rp19 juta. Namun, ketika hendak menjalani operasi kedua, klaim BPJS Ketenagakerjaan Roni justru ditolak.
Menurut keterangan Roni, pihak BPJS menjelaskan, kepesertaan Roni baru didaftarkan perusahaan pada hari yang sama ketika kecelakaan terjadi. Padahal, selama 1,5 tahun ia bekerja sebagai sopir kontainer, ditambah empat bulan setelah kembali bekerja, perusahaan ternyata tidak pernah mengurus administrasi perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Akibat kelalaian itu, Roni tidak bisa mengklaim santunan. Kini, ia masih memiliki tunggakan Rp15 juta di Rumah Sakit Tentara (RST) Ganting, yang harus ia tutup melalui surat perjanjian utang.
Tulang Punggung Keluarga, Kini Hanya Bisa di Kursi Roda
Sejak musibah itu, Roni tak lagi mampu bekerja. Aktivitas sehari-hari kini hanya bisa dilakukan dengan bantuan kursi roda. Ironisnya, ia merupakan tulang punggung keluarga. Ia menanggung seorang istri, dua anak balita berusia tiga dan dua tahun, serta dua orang tua yang sudah lanjut usia.
Untuk biaya perawatan dan transportasi ke rumah sakit, Roni hanya mengandalkan bantuan kawan-kawan sesama pengemudi Maxim. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari bergantung pada pinjaman dari kerabat dan tetangga.
















