“Kemungkinan wilayah Pangkalan itu sudah masuk zona merah untuk penyebaran HIV karena pelanggannya masyarakat sekitar,” ujarnya.
Perihal razai warung kopi itu, Rahmadinol mengatakan bahwa Pihaknya sudah lama menjadikan warung kopi itu sebagai target utama operasi karena merupakan tempat prostitusi berdasarkan laporan warga. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas aktivitas yang terus berulang di lokasi tersebut. Ia menyoroti adanya kesan pembiaran terhadap praktik yang telah meresahkan warga sekitar itu.
“Ini sebenarnya jadi pertanyaan kita juga. Ini kejadian berulang dan masyarakat tahu. Biasanya kalau masyarakat resah, tempat seperti itu sudah ditindak atau dibakar oleh warga. Tapi, kenapa di sini justru terkesan dibiarkan,” ucapnya.
Rahmadinol juga mencium adanya faktor luar yang membuat bisnis ilegal tersebut terus bertahan meski sudah sering dikeluhkan. Ia menerima laporan bahwa aktivitas prostitusi di warung kopi tersebut tidak berjalan sendiri, tetapi ada indikasi dibekingi juga oleh oknum warga setempat.
Rahmadinol menambahkan bahwa keberhasilan operasi itu berawal dari koordinasi matang antarinstansi, untuk memastikan target tidak bocor. Setelah menerima informasi dari warga tentang aktivitas prostitusi di tempat itu, pihaknya berkoordinasi secara senyap dengan jajaran Polri dan TNI. Kemudian, mereka langsung berangkat ke lokasi.















