“Pada file pengamatan tanggal 18 September memang tidak ada deteksi hotspot. Namun, itu berdasarkan periode jam tertentu sehingga tidak berarti sepanjang hari benar-benar nihil,” kata Ferdinal pada Jumat (18/9/2026).
Titik panas lainnya di Sumbar, kata Ferdinal, berada di Dharmasraya (90 titik), Pasaman Barat (52 titik), Sijunjung (42 titik), Solok Selatan (30 titik), Kabupaten Solok (19 titik), Lima Puluh Kota (18 titik), Pasaman (17 titik), Agam (4 titik), Mentawai (4 titik), Padang Pariaman (4 titik), Kota Padang (1 titik), dan Sawahlunto (1 titik).
Berdasarkan tingkat kepercayaan data, kata Ferdinal, 409 titik berada pada kategori sedang, 21 titik berkategori rendah, dan 19 titik masuk dalam kategori tinggi.
Ditinjau dari tutupan lahan, kata Ferdinal, area perkebunan mendominasi sebaran titik panas sebanyak 109 titik, pertanian lahan kering campur 87 titik, serta semak belukar rawa 65 titik. Ia mengatakan bahwa sejumlah titik panas lain tersebar pada semak belukar, rawa sekunder, lahan terbuka, pertanian lahan kering, hingga kawasan hutan lahan kering sekunder dan hutan tanaman.
Ferdinal menegaskan bahwa data hasil pantauan satelit itu langsung ditindaklanjuti oleh tim gabungan untuk memastikan kondisi riil di lapangan.
“Data ini menjadi dasar utama kami dalam melakukan pemantauan dan tindakan ground check, terutama pada kawasan yang memiliki akumulasi hotspot tinggi,” ujar Ferdinal.
Sebagai langkah antisipasi, kata Ferdinal, Dinas Kehutanan Sumbar mengoptimalkan program Siaga Karhutla dengan melibatkan Kesatuan Pengelolaan Hutan, pemda, dan Masyarakat Peduli Api.
“Langkah pencegahan kami perkuat lewat patroli, analisis data cuaca, serta melarang keras aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat maupun pelaku usaha,” tutur Ferdinal.





















