Legiandru juga menepis anggapan bahwa Yusak dan istrinya hidup tanpa perhatian keluarga. Ia mengatakan bahwa rumah yang mereka tempati saat ini bahkan berdinding satu dengan rumah keluarga pihak istri.
“Selama ini kebutuhan sehari-hari mereka dipenuhi keluarga istri. Ada iuran bulanan untuk memenuhi kebutuhan makan dan harian. Uang itu tidak diberikan dalam bentuk uang karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, uang habis tanpa dibelikan kebutuhan pokok,” ujar Legiandru.
Perihal pengobatan istri Yusak, Legiandru mengakui bahwa prosesnya tidak mudah. Ia mengatakan bahwa pemerintah nagari dan kecamatan harus membujuk cukup lama agar yang bersangkutan mau dibawa berobat.
“Tadi kami sudah membawa istri Pak Yusak ke puskesmas dengan ambulans untuk dirawat. Kesehatannya terus kami pantau,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah setempat tidak pernah lengah terhadap keluarga Yusak. Ia menyatakan bahwa pemerintah kecamatan dan pemerintah nagari memantau keluarga itu secara berkala, termasuk memberikan pelayanan kesehatan.
Legiandru menyimpulkan bahwa persoalan dan kondisi keluarga Yusak memang kompleks. Namun, ia menolak anggapan bahwa pemerintah daerah membiarkan keluarga tersebut.
“Kondisinya agak rumit sehingga terlihat seperti sekarang ini. Tapi, pemerintah tidak tinggal diam. Kami terus membujuk, terus memantau, dan terus mencari jalan terbaik,” ujarnya.
Dengan penjelasan itu, kata Legiandru, pemerintah setempat berharap publik memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi keluarga Yusak. Ia menyampaikan bahwa persoalan kemiskinan yang terjadi tidak berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan dinamika keluarga dan keputusan internal yang tidak selalu sejalan dengan upaya bantuan pemerintah.
















