Ia menambahkan bahwa video yang viral telah digiring opininya seolah-olah terjadi pembulian. Padahal, kejadian sebenarnya hanyalah keributan kecil secara verbal di mana beberapa siswa dalam video tersebut justru terlihat berusaha melerai, bukan mengeroyok.
Lebih lanjut, Syafril menggarisbawahi bahwa insiden tersebut terjadi di luar jam belajar mengajar (PBM) dan di luar area pagar sekolah.
“Kalau kejadian terjadi di luar lingkungan sekolah, itu sudah bukan menjadi tanggung jawab sekolah. Silakan saja, mereka mau melakukan apa pun di luar, itu urusan masing-masing,” tambahnya.
Wali Kelas, Megawati, menjelaskan bahwa pemicu masalah sebenarnya berasal dari interaksi di media sosial. Korban B diduga lebih dulu memancing dengan menandai (tag) nama empat siswa lainnya di Instagram dan TikTok yang kemudian memicu reaksi pertanyaan dari siswa yang bersangkutan.
“Situasi yang terlihat dalam video sebenarnya bukan perkelahian. Setelah kejadian itu, mereka bahkan sempat makan bersama, dan ada dokumentasinya. Jadi tidak benar jika disebut terjadi pengeroyokan,” jelasnya.
Terkait kondisi mental korban B yang ramai dibicarakan, pihak sekolah mengungkapkan bahwa berdasarkan data riwayat dan informasi dari orang tua, siswa yang bersangkutan memang sudah memiliki indikasi kondisi psikologis tertentu sejak duduk di bangku SMP.
Perubahan perilaku tersebut mulai muncul secara menonjol setelah ayahnya meninggal dunia.
“Ada perubahan perilaku sejak SMP. Sering memancing teman di media sosial, menarik diri, hingga sering berimajinasi tinggi seperti mengidolakan tokoh Spider-Man dan ingin menjadi pahlawan. Kondisi ini sudah ada sebelumnya, bukan disebabkan oleh kejadian ini,” ungkap narasumber dari pihak sekolah.
Sekolah juga menemukan perilaku tidak wajar saat ujian, di mana siswa tersebut mencoret-coret lembar jawaban. Hal ini memperkuat dugaan adanya gangguan jiwa yang sudah dialami jauh sebelum video tersebut viral.
Pihak sekolah menyayangkan narasi liar di media sosial yang menyimpulkan sepihak tanpa data jelas. Syafril menyatakan bahwa sekolah telah berupaya melakukan mediasi sebanyak tiga kali melalui jalur restorative justice agar persoalan diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, upaya ini ditolak oleh pihak keluarga korban.
Di sisi lain, sekolah juga mengungkapkan adanya tekanan dan sikap arogan dari keluarga korban saat mendatangi sekolah, yang bahkan menyebabkan salah satu guru jatuh pingsan karena terkejut.
“Kami menyampaikan simpati dan empati kepada siswa yang terdampak. Namun, kami memastikan proses ini berjalan adil dengan mendengarkan semua pihak. Kami memohon dukungan agar persoalan ini diselesaikan dengan bijak demi masa depan anak-anak kita,” tutupnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga korban belum dapat dimintai keterangan terkait dugaan perundungan tersebut.














