Kabarminang – Produksi padi di Sumatera Barat (Sumbar) sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat mengalami kenaikan meski luas lahan panen justru menurun.
Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar yang dikutip Kamis (19/2/2026), produksi padi Sumbar pada 2025 mencapai 1.382.697 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Angka tersebut meningkat 1,93 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 1.356.468 ton GKG, atau bertambah sekitar 26.229 ton GKG.
Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi, produksi tersebut setara dengan 800.613 ton beras, naik 15.187 ton dibandingkan 2024 yang berada di angka 785.426 ton.
BPS mencatat puncak produksi padi Sumbar 2025 terjadi pada Maret dengan capaian 162.065 ton GKG. Sementara produksi terendah terjadi pada November dengan angka 67.092 ton GKG.
Dari sisi wilayah, tiga daerah dengan produksi tertinggi adalah Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kabupaten Tanah Datar. Adapun tiga daerah dengan produksi terendah yakni Kota Padang Panjang, Kota Bukittinggi, dan Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Namun, beberapa daerah sentra seperti Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota dilaporkan mengalami penurunan produksi dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, luas panen padi Sumbar pada 2025 tercatat menyusut menjadi 284.076 hektare, turun 11.203 hektare atau 3,79 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 295.279 hektare. Kondisi ini mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas lahan.
Untuk awal 2026, BPS memprakirakan potensi penurunan. Luas panen Januari–Maret 2026 diprediksi hanya 83.527 hektare, turun sekitar 10,51 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sejalan dengan itu, produksi padi Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 450.530 ton, sedangkan produksi beras diproyeksikan hanya 226.587 ton, atau turun sekitar 40.516 ton beras dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya















