Kabarminang — Siti Aisyah, atlet renang disabilitas tunarungu asal Tanjung Ampalu, Kecamatan Koto 7, Sijunjung, mencetak prestasi gemilang di ASEAN Para Games 2025 dengan meraih 2 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Kegiatan tersebut digelar di Thailand pada 20-26 Januari 2026.
Perempuan yang akrab disapa Siti itu berusia 15 tahun. Ia saat ini menimba ilmu di kelas 8C SLB Aisyiyah Sijunjung. Ia mulai menyukai renang sejak sekolah dasar melalui Sijunjung Swimming Club.
Keberhasilan Siti di kancah nasional berawal dari prestasinya menjadi perenang tercepat dan mewakili daerah di Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) 2023 di Palembang. Di ajang itu, ia meraih tiga medali emas di nomor 50 gaya kupu-kupu, 50 gaya bebas, dan 50 gaya punggung.
Prestasi nasionalnya berlanjut di Peparpenas 2024 di Solo, dengan dua medali emas (50 gaya punggung dan 50 gaya kupu-kupu) dan satu perak (200 gaya bebas). Tahun 2025 di Peparpenas Jakarta, Siti menambah koleksi satu emas (100 gaya punggung) dan dua perunggu (100 gaya bebas dan 100 gaya kupu-kupu). Kesuksesan ini membawanya masuk ke pembinaan Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas Indonesia (SKODI), lembaga pendidikan dan pelatihan bagi atlet disabilitas berprestasi internasional.
Kemudian langkah internasional Siti dimulai di Youth Asian Para Games 2024 di Dubai (7–14 Desember), di mana ia menyabet empat medali emas, termasuk nomor 100, 200, 400 gaya bebas, dan 100 gaya punggung. Kesuksesan ini berlanjut di ASEAN Para Games 2025 di Thailand, dengan dua emas (100 dan 250 gaya punggung), satu perak di lomba estafet berkelompok bersama rekan-rekannya, serta tiga perunggu (100 gaya bebas, 200 gaya bebas, dan 200 gaya ganti).
“Siti sudah menunjukkan bakat luar biasa sejak awal. Ia cepat belajar teknik renang, disiplin, dan punya semangat juang yang tinggi. Saat seleksi untuk ASEAN Para Games Thailand, ia langsung lolos. Kami sebagai sekolah tentu mendukung sepenuhnya, apapun yang terbaik untuk siswi kami,” ujar Kepala Sekolah SLB Aisyiyah Sijunjung, Yulidarti, kepada Sumbarkita, Kamis (29/1).
Ia melanjutkan, dukungan dari sekolah tidak hanya sebatas fasilitas, tapi juga dari guru-guru yang melatih tanpa bayaran, serta pihak pemda yang menyediakan kolam renang gratis untuk latihan.
“Tantangan terbesar tentu menghadapi mood anak-anak, tapi kami sudah terbiasa dan tahu cara memotivasi mereka. Kami berharap prestasi Siti bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak disabilitas lain untuk terus berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” jelasnya.
















