Kabarminang – Rektor Universitas Andalas (Unand), Efa Yonnedi, menyampaikan pesan penting kepada para wisudawan terkait tantangan global yang semakin kompleks, terutama disrupsi teknologi dan risiko kecerdasan buatan (AI) yang diprediksi akan makin besar dalam dua tahun ke depan.
Hal itu ia sampaikan usai prosesi Wisuda Periode 1 Tahun 2026 yang digelar di Gedung Auditorium Unand, Limau Manis, Padang, Sabtu (14/2/2026).
“Harapan kita terhadap lulusan Universitas Andalas mencakup beberapa poin krusial. Dalam dua tahun ke depan, risiko yang akan muncul semakin besar, terutama terkait disrupsi teknologi dan mesin (AI). Tantangan utama adalah kemampuan untuk membedakan mana konten asli dan mana konten buatan mesin,” sebutnya di hadapan awak media.
Menurut Efa, dunia saat ini tengah dilanda tsunami informasi yang kerap mengaburkan batas antara fakta dan kebenaran. Kondisi ini, kata dia, menuntut lulusan memiliki ketajaman berpikir agar tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang tidak tervalidasi.
“Kondisi ini membutuhkan lulusan yang berpikir kritis serta mampu menguji setiap informasi yang diterima secara logis,” tegasnya.
Selain isu teknologi, Efa juga menyoroti persoalan lingkungan yang dinilai semakin mendesak. Mengacu pada rentetan bencana alam di akhir tahun 2025 lalu, ia mengingatkan bahwa perubahan iklim memiliki dampak nyata terhadap stabilitas ekonomi hingga infrastruktur strategis.
“Kita telah menyaksikan bagaimana bencana alam bisa menutup bisnis dalam satu malam, menghilangkan pekerjaan, atau merusak infrastruktur strategis. Oleh karena itu, kesadaran akan lingkungan dan keseimbangan ekologis harus dimiliki oleh seluruh alumni Unand demi keberlangsungan masa depan anak cucu kita,” tambahnya.
Terkait kemajuan robotika dan Generative AI, pihak universitas meminta para alumni agar tidak memandang teknologi sebagai ancaman, melainkan sebagai rekan kerja untuk meningkatkan produktivitas.
Meski begitu, Efa mengingatkan bahwa teknologi tetap memiliki keterbatasan dan tidak bisa menggantikan esensi manusia.
“Teknologi tidak bisa menggantikan manusia sepenuhnya karena manusia memiliki kecerdasan emosional dan ‘kompas moral’. Maka, pesan kami kepada alumni: tetaplah mengedepankan adab sebelum beradaptasi dengan perubahan,” jelasnya.
Di sisi lain, Efa juga mendorong para lulusan untuk terus memperbarui keterampilan melalui program micro-credential. Menurutnya, relevansi ilmu yang diperoleh selama kuliah akan terus diuji oleh perkembangan zaman.
“Teruslah belajar dan memperbarui keterampilan. Apa yang dipelajari selama kuliah belum tentu tetap relevan di masa depan, sehingga memperbarui ilmu pengetahuan adalah kunci untuk tetap bertahan dan unggul,” pungkas Efa.
Dalam wisuda tersebut, Universitas Andalas resmi melepas sebanyak 1.333 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Diploma, Sarjana, hingga Doktor.
Wisuda Periode 1 Tahun 2026 ini diharapkan menjadi langkah awal bagi ribuan alumni Unand untuk menjadi agen perubahan yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral serta kepedulian terhadap bumi.
















