Kabarminang – Program pelatihan keterampilan yang digelar Pemerintah Kabupaten Solok Selatan melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) mulai menunjukkan hasil. Salah satunya dirasakan Maikon Saputra (23), pemuda asal Nagari Sitapus, Kecamatan Sangir Batang Hari, yang kini berhasil mengembangkan usaha jahit miliknya.
Berkat pelatihan menjahit yang difasilitasi Balai Latihan Kerja (BLK), Maikon kini tidak hanya menerima jasa permak, tetapi juga mampu membuat pakaian sendiri. Usaha yang diberi nama Maikon Tailor itu bahkan mulai kebanjiran pesanan hingga membuatnya harus bekerja hingga pukul dua dini hari untuk menyelesaikan jahitan tepat waktu.
“Maikon Tailor sudah ada sejak saya masih SMA, tapi dulu hanya menerima jasa permak. Setelah ikut pelatihan, saya belajar membuat pola dan mengoperasikan berbagai peralatan sehingga sekarang sudah bisa membuat pakaian sendiri,” kata Maikon, Selasa (10/3/2026).
Maikon mengikuti pelatihan menjahit selama 20 hari setelah mendapatkan informasi dari media sosial mengenai program pelatihan yang difasilitasi Disnakertrans Solok Selatan. Pelatihan tersebut menjadi titik awal berkembangnya usaha yang kini mampu menopang kebutuhan hidupnya.
Meski usahanya mulai berkembang, Maikon berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lanjutan, seperti bantuan mesin bordir. Menurutnya, kebutuhan bordir cukup tinggi, terutama untuk seragam sekolah, sementara di wilayah Sitapus belum tersedia mesin tersebut.
Selain itu, ia juga berharap adanya pelatihan lanjutan untuk meningkatkan keterampilan menjahitnya.
Kepala Disnakertrans Solok Selatan, Joni Firmansyah, mengatakan program pelatihan kerja merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan untuk menciptakan tenaga kerja yang mandiri dan memiliki keterampilan.
“Program ini bertujuan menekan angka pengangguran. Saat ini tingkat penyerapan tenaga kerja dari peserta pelatihan mencapai sekitar 60 persen oleh perusahaan yang beroperasi di Solok Selatan. Sebagian lainnya bahkan mampu membuka usaha sendiri,” kata Joni.
Ia menjelaskan, setiap tahun jenis pelatihan yang diberikan berbeda-beda menyesuaikan paket dari pemerintah pusat serta kebutuhan tenaga kerja di daerah. Pada 2026 misalnya, pelatihan yang tersedia meliputi tata boga, desain visual, dan barista, dengan masing-masing paket diikuti 16 peserta.
Meski demikian, Joni mengakui masih ada tantangan yang dihadapi, terutama terkait keterbatasan akses modal usaha bagi lulusan pelatihan sehingga sebagian dari mereka masih harus mencari sumber pendanaan sendiri setelah menyelesaikan pelatihan.
















