Di sinilah Roehana menunjukkan kepiawaiannya sebagai penulis, redaktur, sekaligus pemimpin redaksi. Surat kabar ini menyuarakan isu-isu penting seputar pendidikan, tradisi, poligami, dan hak-hak perempuan.
Perjuangan Roehana tidak lepas dari tantangan dan penolakan, terutama dari kalangan adat dan tokoh konservatif di Minangkabau. Ia bahkan sempat difitnah dan kehilangan jabatan di sekolah yang ia dirikan sendiri. Namun, itu tidak menghentikannya.
Ia pindah ke Bukittinggi dan mendirikan Roehana School, yang kelak menjadi salah satu sekolah perempuan terpopuler di wilayah tersebut. Di masa ini pula, ia aktif menulis di berbagai surat kabar seperti Perempuan Bergerak, Radio, dan Cahaya Sumatra.
– Kiprah di Dunia Jurnalisme dan Sosial
Roehana juga dikenal aktif dalam dunia sosial dan politik. Ia pernah membantu perjuangan para gerilyawan dengan mendirikan dapur umum dan menyelundupkan senjata secara diam-diam melalui jalur Ngarai Sianok.
Semua ini dilakukannya atas dasar semangat kebangsaan dan kecintaannya pada tanah air. Hingga akhir hayatnya pada 17 Agustus 1972 di Jakarta, ia tetap konsisten dalam perjuangan di bidang pendidikan, jurnalisme, dan sosial.
– Penghargaan atas Jasa yang Tak Terlupakan
Atas dedikasi dan kiprahnya, Roehana Koeddoes dianugerahi berbagai penghargaan. Ia dinobatkan sebagai Wartawati Pertama oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat pada 1974, Perintis Pers Indonesia tahun 1987, dan menerima Bintang Jasa Utama pada 2007. Puncaknya, pada 7 November 2019, ia secara resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Itulah dia sejarah singkat Roehana Koeddoes, tokoh pendidikan serta jurnalis perempuan pertama di Indonesia.
















