Kini mesin-mesin itu diam. Ruangan itu menjadi penanda upaya terakhir keluarga ini untuk bertahan jejak harapan yang pernah diusahakan, lalu perlahan ditinggalkan oleh waktu.
Sudut rumah yang paling menyayat hati berada di bagian belakang. Cahaya hampir tak pernah masuk ke kamar itu. Dindingnya lembap, dipenuhi bercak hitam dan putih. Udara pengap. Di atas dipan kayu sederhana, Siti Anyar (73 tahun) terbaring. Tubuhnya lemah, nyaris tak bergerak.
“Istri saya sudah lama sakit. Tak bisa bangun lagi,” ucap Yusak.
Hari-hari Siti Anyar dihabiskan di tempat itu. Makan di sana. Buang hajat di sana. Tidur di sana. Tak ada kasur layak. Tak ada peralatan medis. Hanya kasur tipis, kain lusuh, dan kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit seakan-akan ikut lelah.
“Saya rawat semampu saya. Kalau bukan saya, siapa lagi?” ujar Yusak.
Di samping ranjang, sebuah kursi plastik kecil berdiri diam. Di lantai, alas tidur lain tergelar seadanya. Rumah itu menampung tiga orang: Yusak, istrinya, dan anak mereka, Nofriandi YS (40 tahun).
Nofriandi secara fisik tampak dewasa. Namun, Yusak menyebut anaknya memiliki kelainan mental. Ia tak mampu bekerja mandiri, tak sanggup menopang keluarga. Dalam rumah itu tak ada yang benar-benar kuat. Semua saling bergantung pada tubuh yang rapuh.
Sejak 2025 keluarga itu bertahan hidup dari bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp450 ribu per bulan.















