Kabarminang – Kemarau dan cuaca panas yang melanda Kota Padang sejak awal Januari 2026 mulai menunjukkan dampak nyata terhadap kondisi lingkungan. Sejumlah sungai di wilayah perkotaan terpantau mengalami penyusutan debit air, bahkan mengering di beberapa bagian.
Pantauan di kawasan Padang Timur pada Selasa (27/1/2026) memperlihatkan penampakan salah satu sungai yang alirannya menyusut drastis. Air tampak mengalir sangat tipis di bagian tengah sungai, sementara sebagian besar dasar sungai terlihat terbuka.
Kondisi tersebut terlihat jelas pada Sungai Banda Bakali, yang selama ini menjadi salah satu aliran air di kawasan permukiman Padang Timur. Dari pengamatan visual, lebar aliran sungai menyempit jauh dibandingkan kondisi normal, dengan batu-batu sungai tampak dominan di permukaan.
Bantaran sungai terlihat kering di hampir seluruh sisi. Aliran air bergerak pelan dan tidak merata, mencerminkan menurunnya debit air akibat minimnya pasokan dari curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Fenomena mengeringnya sungai tidak hanya terjadi di satu titik. Sejumlah aliran sungai lain di Kota Padang juga dilaporkan mengalami kondisi serupa, seiring berkurangnya hujan dan meningkatnya suhu udara, terutama pada siang hari.
Dampak kemarau tersebut turut dirasakan oleh masyarakat. Di sejumlah kawasan permukiman, warga mulai menghadapi krisis air bersih akibat sumur-sumur yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mengalami penurunan debit, bahkan mengering.
Air tanah yang sebelumnya mencukupi kini sulit diperoleh, terutama pada siang hingga sore hari. Kondisi ini memaksa sebagian warga untuk menghemat penggunaan air atau mencari sumber alternatif guna memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Hingga Selasa siang, belum ada keterangan resmi terkait perkiraan berakhirnya kondisi kemarau di Kota Padang. Namun, penampakan sungai yang mengering dan berkurangnya ketersediaan air bersih menjadi indikator bahwa dampak cuaca kering mulai dirasakan secara luas.
Kondisi ini menjadi kontras dengan situasi Kota Padang pada akhir November hingga Desember 2025, ketika curah hujan sangat tinggi melanda wilayah tersebut. Pada periode itu, hujan lebat memicu banjir bandang di sejumlah kecamatan dan berdampak besar terhadap aktivitas serta permukiman warga.
















