“Pembersihan material bencana di jalan-jalan utama menjadi fokus utama agar akses lalu lintas serta jalur distribusi logistik kembali lancar,” kata Boy.
Ia menjelaskan, pendataan menyeluruh terhadap struktur bangunan dan rumah warga masih dilakukan. Proses tersebut terkendala pemadaman listrik, gangguan sinyal telekomunikasi, serta curah hujan tinggi yang masih berlangsung hingga pagi hari.
Dengan kondisi tersebut, seluruh pegawai di lingkungan perkantoran Pemkab Solok diimbau menjalankan WFH. Durasi kebijakan akan disesuaikan dengan kondisi selama masa tanggap darurat bencana yang ditetapkan selama 14 hari.
“Untuk hari ini, pegawai diimbau melakukan WFH mengingat kejadian berlangsung tadi malam dan kondisi lokasi perkantoran yang belum kondusif,” tutur Boy.
Meski menerapkan WFH, Pemkab Solok memastikan pelayanan publik tetap berjalan. Pelayanan dari OPD yang terdampak dialihkan sementara ke ruangan yang aman atau digabungkan dengan fasilitas kantor lainnya.
“Pelayanan publik dari OPD yang terdampak dialihkan sementara waktu dengan memanfaatkan ruangan yang aman atau bergabung di fasilitas kantor lain,” tegasnya.
Selain merusak fasilitas pemerintahan, bencana tersebut juga menyebabkan dua warga hanyut terbawa arus deras. Tim SAR gabungan telah menemukan satu korban berusia 21 tahun dalam kondisi meninggal dunia.
Sementara itu, satu korban lainnya yang diperkirakan berusia sekitar 60 tahun masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
“Prioritas utama kami saat ini adalah pencarian korban yang belum ditemukan serta penanganan darurat bagi warga terdampak,” ujar Boy.
Untuk penanganan warga yang terdampak, Pemkab Solok memusatkan lokasi pengungsian sementara di Rumah Dinas Wakil Bupati, kawasan pabrik Aqua, serta sejumlah titik lain yang dinilai aman bagi masyarakat

















