Dalam operasionalnya, pengemudi berasal dari pemilik kendaraan, pengemudi yang disediakan pengelola, serta sejumlah pemuda setempat dan dari luar daerah. Mereka memperoleh upah berdasarkan jumlah perjalanan yang dijalankan. Saat ini, wahana tersebut rata-rata melayani enam hingga delapan perjalanan setiap pekan.
Selain wisata off-road, Kapalo Banda Taram juga menawarkan berbagai atraksi wisata alam lainnya, seperti sungai berair jernih, rakit bambu, kawasan hutan pinus, area berkemah, jalur trekking, hingga river tubing. Berbagai aktivitas tersebut turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat yang membuka warung makan dan usaha kecil di sekitar lokasi wisata.
Yusri menyebutkan, pendapatan yang dihasilkan kawasan wisata sangat bergantung pada jumlah kunjungan. Namun, saat musim liburan panjang, libur sekolah, maupun Lebaran, perputaran ekonomi di kawasan tersebut dapat mencapai puluhan juta rupiah.
“Kalau hari biasa omzetnya berbeda-beda. Namun saat libur panjang, libur sekolah, atau Lebaran, omzet bisa mencapai puluhan juta rupiah,” ujarnya.
Dampak peningkatan kunjungan wisatawan juga dirasakan oleh pedagang di sekitar lokasi. Marini (45), salah seorang pedagang, mengaku memperoleh tambahan penghasilan ketika jumlah pengunjung meningkat pada musim liburan.
“Kalau Lebaran pengunjung ramai dan saya bisa dapat penghasilan lebih,” katanya.
Selain mengembangkan sektor pariwisata, pengelola Kapalo Banda Taram juga mengaku berupaya memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, seperti membantu warga yang membutuhkan, memperbaiki jalan yang rusak, dan mengganti lampu jalan yang padam.















