Kabarminang – Puluhan warga terdampak bencana di Jorong Kayu Pasak Selatan, Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, kini tersebar menumpang di rumah-rumah warga di nagari tetangga. Para pengungsi mengaku belum mendapatkan bantuan logistik yang memadai sejak meninggalkan lokasi pengungsian utama.
Salah seorang pengungsi, Eldi, mengatakan ia bersama 76 warga lainnya yang terdiri dari 25 kepala keluarga mengungsi ke Jorong Padang Koto, Nagari Salareh Aia Utara. Awalnya, mereka berencana mengungsi ke SD Negeri 05 Kayu Pasak, namun lokasi tersebut telah penuh.
“Karena tidak tertampung, kami akhirnya menumpang di rumah-rumah warga yang bersedia menerima,” ujar Eldi.
Berbeda dengan pengungsian terpusat, para pengungsi yang menumpang di rumah warga harus memasak secara mandiri. Hingga kini, tidak tersedia dapur umum maupun distribusi logistik rutin.
“Kami memasak sendiri dengan persediaan seadanya. Kalau bantuan belum datang, kami tidak tahu sampai kapan bahan ini bertahan,” katanya.
Eldi membandingkan kondisi tersebut dengan pengungsi yang berada di SD Negeri 05 Kayu Pasak, di mana kebutuhan pangan relatif tercukupi karena dikelola secara terpusat.
“Sementara kami berada di nagari lain dan mengurus kebutuhan sendiri,” tambahnya.
Anak Kembali Sekolah, Orang Tua Kehilangan Penghasilan
Di tengah keterbatasan, persoalan pendidikan turut membebani para pengungsi. Anak-anak mulai kembali bersekolah, sementara orang tua kehilangan sumber penghasilan pascabencana.
“Anak-anak sudah mulai sekolah. Kami bingung biaya seragam dan alat tulis, sementara saat ini tidak ada penghasilan,” ujar Eldi.
















