Afrinaldo juga menyoroti alasan pihak rumah sakit yang menyebut Karim berbicara tidak terarah karena mengaku mengenal tokoh Fadli Amran.
“Menurut kami, penilaian tersebut tidak tepat. Karim dikenal sebagai seorang pendakwah dan memiliki rekam jejak yang jelas. Bahkan, kami menunjukkan dokumentasi bahwa Karim pernah terlibat dalam kegiatan bersama Ustaz Abdul Somad sebagai bagian dari satuan tugas jamaah,” ujarnya.
Ia melanjutkan, pada jenazah Karim ditemukan memar pada dagu sebelah kiri, dada, punggung, dan pinggang, serta pendarahan di otak.
“Kami bersama keluarga korban akan terus mengawal proses hukum ini secara transparan dan profesional hingga tuntas di pengadilan,” imbuhnya.














