Keluarga juga menyebut adanya sejumlah kejanggalan di lokasi kejadian. Mereka mengaku mendapati kondisi kamar mes dalam keadaan berantakan ketika pertama kali mendatangi lokasi.
Namun, saat olah TKP lanjutan dilakukan polisi, kondisi kamar disebut sudah rapi.
“Saat keluarga pertama kali masuk, kamar sangat berantakan seperti bekas perkelahian dan korban terbaring tanpa bantal. Namun saat polisi melakukan olah TKP lanjutan, kondisi kamar dilaporkan sudah rapi,” kata Rodi.
Keluarga turut mempertanyakan hasil pemeriksaan awal petugas kesehatan yang, menurut mereka, mengarah pada dugaan korban meninggal akibat henti jantung dan napas yang dipicu pembekapan.
Meski demikian, penyebab pasti kematian Ingga masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik.
Selain kondisi kamar, keluarga juga menyoroti keterangan penghuni kamar mes berinisial W yang merupakan anggota kepolisian.
Menurut Rodi, terdapat sejumlah hal dalam keterangan W yang dinilai perlu didalami penyidik.
“Kesaksian W sangat janggal. Ia mengaku keluar mes jam dua dini hari lalu masuk kembali. Ia bersama dua rekannya juga yang pertama mengabarkan korban pingsan kepada keluarga, padahal korban diduga sudah meninggal beberapa jam sebelumnya,” ujarnya.
Hingga Senin (10/8/2026), hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik masih dinantikan. Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengungkap penyebab pasti kematian Ingga Pratama Putra, guru SDN 13 Sungai Pinang Tarusan.














