Tak lama kemudian, kata SJ, seorang teman RA yang masih duduk di bangku SMP datang menemui RA. Teman tersebut melihat pesan permintaan maaf itu dan membalasnya menggunakan ponsel RA.
“Balasan yang dikirim berbunyi, ‘Najis siapa kali kamu minta maaf? Habis membuli dan menghujat seenaknya aja minta maaf lagi’,” tutur SJ.
SJ menduga balasan itu memicu kemarahan S. Pada Minggu (2/8/2026), setelah latihan tari selesai, S mengajak RA berkelahi satu lawan satu di pinggir sungai di kawasan Lapangan Bola Sungai Sariak.
“Karena mengira akan berkelahi satu lawan satu, RA pergi sendiri tanpa memberi tahu teman-temannya maupun mahasiswa KKN,” ujarnya.
Sesampainya di lokasi, kata SJ, RA mendapati S datang bersama sejumlah temannya dari SDN 15.
SJ menyebut adiknya kemudian dipegang oleh beberapa anak, sementara S diduga memukul kepala dan menendang perut korban. Ia mengatakan bahwa beberapa anak lainnya ikut menarik rambut RA.
Menurut SJ, setelah RA menangis karena kesakitan, salah seorang anak mengatakan, “Sudah itu. RA sudah menangis. Ini kita sudah melakukan pembulian. Nanti RA pingsan bagaimana?” Berdasarkan pengakuan adiknya, kata SJ, ada anak lain yang merespons, “Kalau pingsan nanti kita buang saja ke sungai.”
Setelah itu, kata SJ, kelompok siswa tersebut meninggalkan lokasi. Sementara itu, RA pulang ke rumah dalam keadaan menangis dan mengalami luka.















