Kabarminang — Warga Kota Padang mengeluhkan kondisi cuaca berkabut yang menyelimuti wilayah mereka dalam beberapa hari terakhir karena memicu penurunan jarak pandang mendatar serta pemburukan kualitas udara.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Edolatama Febrinal, mengonfirmasi terjadinya fenomena tersebut berdasarkan pemantauan alat meteorologi pada Rabu (12/8/2026) malam.
Edolatama menjelaskan bahwa penurunan jarak pandang mendatar di Sumatera Barat (Sumbar) disertai dengan pergeseran status kualitas udara dari kategori baik menjadi sedang berdasarkan indikator PM2.5.
”Beberapa hari belakangan ini memang terpantau terjadi penurunan jarak pandang mendatar di sebagian wilayah Sumatera Barat yang diiringi penurunan kualitas udara,” ujar Edolatama kepada Sumbarkita.
Berdasarkan analisis citra satelit polar hotspot, kata Edolatama, BMKG mendeteksi keberadaan sejumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di Sumatera Barat.
Kendati demikian, kata Edolatama, pantauan citra satelit dengan metode RGB menunjukkan tidak ada sebaran asap berukuran besar yang muncul secara langsung di Sumbar.
BMKG, kata Edolatama, menganalisis bahwa partikel kering mikroskopis berupa asap berhembus masuk ke Sumbar akibat terbawa angin dari provinsi tetangga.
”Kondisi berkabut terjadi karena terdapat partikel kering mikroskopis berupa asap yang terbawa angin ke Sumatera Barat dari wilayah sekitarnya,” tutur Edolatama.
















