Edolatama menginformasikan bahwa wilayah tetangga yang tercatat memiliki titik panas dan sebaran asap signifikan berdasarkan pantauan satelit ialah Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Selain faktor pergerakan angin antarwilayah, kata Edolatama, faktor lain yang diidentifikasi ialah aktivitas pembakaran lokal di tingkat tapak. Ia menyebut bahwa pembakaran kebun, hutan, atau lahan dalam skala kecil yang terjadi di beberapa lokasi diduga turut menyumbang akumulasi asap di udara.
”Pembakaran lahan skala kecil di beberapa tempat menghasilkan asap yang belum terdeteksi satelit. Namun, akumulasinya menurunkan jarak pandang,” ucap Edolatama.
Edolatama menjelaskan bahwa akumulasi asap dari berbagai titik pembakaran lokal tersebut akhirnya berkumpul dan memperburuk jarak pandang serta kualitas udara di Kota Padang.
Atas hal tersebut, Edolatama mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan secara sembarangan guna mencegah pemburukan kondisi udara yang lebih parah.
Ia juga menyarankan warga Padang untuk memantau pembaruan informasi cuaca resmi serta mengantisipasi dampak penurunan kualitas udara saat beraktivitas di luar ruangan.
















