Kabarminang – Sejumlah massa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli di Kabupaten Tanah Datar, menggelar aksi simbolik sebagai protes atas pembiaran infrastruktur yang telah memakan korban jiwa, Jumat (30/1/2026) kemarin.
Aksi ini dipicu oleh tragedi maut, yang menimpa seorang mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) BP 22 UIN Mahmud Yunus (MY) Batusangkar, pada November 2025 lalu.
Mahasiswa yang tidak disebutkan identitasnya itu meninggal dunia, setelah kendaraannya terperosok ke lubang jalan yang rusak parah saat hendak menuju lokasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).
Presiden Mahasiswa UIN MY Batusangkar, Muhammad Yandra, mengungkapkan bahwa aksi dimulai pukul 08.30 WIB dengan titik kumpul di Rumah Perjuangan Piliang.
Sebanyak 20 mahasiswa kemudian bergerak menuju Simpang Padang Siminyak, Saruaso, sebagai titik utama orasi.
“Kami melakukan aksi simbolik berupa tabur bunga dan pemasangan spanduk di dua titik. Lokasi pertama di jalan yang rusak parah, dan titik kedua tepat di lubang yang menyebabkan meninggalnya salah satu mahasiswi kami,” ujar Yandra saat dikonfirmasi Sumbarkita, Sabtu (31/1/2026).
Aksi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut, digelar hanya berjarak 50 meter dari lokasi kecelakaan maut yang merenggut nyawa mahasiswi semester VII itu.
Mahasiswa menilai, lubang-lubang di jalan lintas provinsi di Tanah Datar adalah ancaman nyata yang selama ini diabaikan. Massa aksi secara tegas menuntut perbaikan menyeluruh pada seluruh ruas jalan lintas provinsi, yang berada di wilayah Kabupaten Tanah Datar.
Menurut mereka, persoalan ini tidak bisa terus dibiarkan karena menyangkut keselamatan publik. Yandra menjelaskan, pilihan untuk menuntut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat didasari oleh status kewenangan jalan tersebut.














