Kabarminang – Warga di sejumlah wilayah Sumatera Barat dihebohkan dengan suara dentuman keras yang terdengar pada Jumat dini hari, 23 Januari 2026. Suara tersebut dilaporkan terdengar di Kabupaten Agam, Pasaman Barat, hingga kawasan sekitar Danau Maninjau, bahkan dirasakan sampai Kecamatan Lembah Melintang.
Fenomena itu dilaporkan terjadi menjelang waktu salat Subuh dan sontak memicu keresahan di tengah masyarakat.
Informasi mengenai dentuman misterius ini pun cepat menyebar melalui media sosial. Beragam spekulasi bermunculan, salah satunya dugaan bahwa suara tersebut berasal dari meteor yang jatuh atau melintas di atmosfer.
Menanggapi keresahan warga, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau angkat bicara. Kepala Stasiun BMKG Minangkabau, Decky Irmawan, mengatakan pihaknya telah melakukan analisis mendalam terhadap seluruh instrumen pemantauan cuaca dan kegempaan.
“Hasil pantauan radar cuaca dan alat pendeteksi petir menunjukkan tidak ada cuaca ekstrem saat kejadian. Tidak ditemukan awan konvektif maupun sambaran petir yang signifikan yang dapat memicu suara deras di atmosfer,” kata Decky Irmawan dalam keterangan persnya, Sabtu (24/1/2026).
Selain itu, berdasarkan data seismik pada waktu yang bersamaan dengan laporan dentuman, BMKG juga tidak mencatat adanya aktivitas gempa bumi atau pergerakan lempeng tektonik, khususnya di wilayah Agam dan sekitarnya.
“Hal ini menunjukkan bahwa sumber suara tersebut kemungkinan besar bukan berasal dari aktivitas tektonik atau pergerakan lempeng,” jelasnya.
BMKG menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan indikasi ancaman bencana alam dari fenomena tersebut. Meski penyebab pasti dentuman masih belum dapat dipastikan, BMKG memastikan kondisi wilayah terdampak dalam keadaan aman.
















