Di sisi lain, aktivitas impor juga mengalami peningkatan. Nilai impor Sumatera Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar US$118,70 juta. Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juni 2026, nilai impor mencapai US$599,48 juta atau meningkat 166,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut BPS, kenaikan impor tersebut didominasi kelompok bahan bakar mineral serta ampas dan sisa industri makanan yang digunakan sebagai bahan baku kegiatan industri di Sumatera Barat. Adapun Singapura dan Malaysia masih menjadi dua negara pemasok terbesar barang impor ke daerah ini.
“Tingginya angka impor bahan baku ini mencerminkan bergairahnya aktivitas manufaktur dan pasokan energi dalam negeri Sumatera Barat yang terus bergerak dinamis,” kata Hasanudin.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan perdagangan luar negeri Sumatera Barat masih bertumbuh pada semester pertama 2026. Kinerja ekspor tetap ditopang komoditas berbasis kelapa sawit, sementara peningkatan impor terutama berasal dari kebutuhan bahan baku yang mendukung aktivitas industri di daerah.















