Penurunan lebih tajam terjadi di sejumlah negara lainnya. Ekspor Sumbar ke Vietnam merosot 70 persen menjadi USD274,32 ribu, sedangkan Iran turun 59 persen menjadi USD279,54 ribu.
Di kawasan Eropa, Belanda mencatat penurunan transaksi hingga 93 persen. Nilai ekspor ke negara tersebut pada Agustus hanya mencapai USD179,50 ribu.
“Bahkan ada belasan negara tujuan yang pada bulan Juli lalu melakukan transaksi, namun di bulan Agustus ini catatannya nol atau turun 100 persen,” tutur Novrial.
Sejumlah negara yang tidak mencatat transaksi ekspor Sumbar pada Agustus setelah sebelumnya melakukan transaksi pada Juli antara lain Selandia Baru, Rusia, Thailand, Swedia, Taiwan, Finlandia, Polandia, Portugal, Uni Emirat Arab, dan Kanada.
Di tengah pelemahan pasar tradisional, permintaan dari Asia Selatan justru meningkat. Selain Pakistan, ekspor ke Bangladesh melonjak 287 persen menjadi USD50,61 juta, sedangkan Myanmar naik 141 persen menjadi USD24,30 juta.
Kenaikan juga tercatat di sejumlah negara lain. Ekspor ke Malaysia tumbuh 413 persen menjadi USD388,19 ribu, Singapura naik 142 persen menjadi USD7,78 juta, dan Amerika Serikat meningkat 102 persen menjadi USD2,64 juta.
Sumbar juga mulai mencatat transaksi dengan sejumlah pasar baru. Ekspor ke Nepal tercatat USD45,75 ribu, Jerman USD30 ribu, dan Spanyol USD10,15 ribu.
Perubahan tujuan ekspor tersebut menunjukkan pergeseran kontribusi pasar terhadap perdagangan luar negeri Sumbar pada Agustus. Lonjakan permintaan dari sejumlah negara Asia Selatan menjadi penopang pertumbuhan ketika transaksi di beberapa pasar tradisional justru mengalami penurunan.





















