Kabarminang – Sejumlah siswa di Nagari Limau Gadang Lumpo, Kecamatan Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan harus menggunakan lori untuk menyeberangi aliran Sungai Batang Lumpo yang deras demi tetap bisa berangkat ke sekolah.
Kondisi tersebut terjadi setelah jembatan penghubung di kawasan itu tidak lagi dapat difungsikan secara optimal. Warga yang hendak pergi ke sekolah maupun bekerja harus mencari cara alternatif untuk melintasi sungai.
Tokoh masyarakat Nagari Limau Gadang, Atiang Zulbandri, mengatakan kondisi ini telah berlangsung sejak jembatan rusak akibat banjir pada Maret 2024.
Ia menjelaskan, sebelumnya jembatan masih bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor, namun tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Situasi berubah sejak pertengahan Februari 2026, ketika jembatan tersebut mulai dibongkar untuk pembangunan ulang.
“Namun pada pertengahan Februari 2026 ini jembatan yang rusak itu dibongkar untuk dibuatkan jembatan baru yang bisa dilewati sepeda motor dan mobil, sejak pembongkaran itulah warga mulai menyebrangi sungai,” kata Atiang saat dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Lori merupakan alat transportasi sederhana berbasis kabel yang ditarik melintasi sungai. Warga memanfaatkannya, terutama ketika debit air meningkat dan arus sungai menjadi lebih kuat, sehingga cukup berisiko untuk diseberangi secara langsung.
Dia menyebut penggunaan lori ini menjadi solusi sementara bagi warga, khususnya pelajar, selama proses pembangunan jembatan berlangsung.
“Lori itu digunakan hanya ketika banjir dan air sungai besar deras, sedangkan ketika air sungai tidak besar, anak-anak sekolah dan warga hanya menyebrangi sungai secara langsung dengan jalan kaki,” ujarnya.
Jembatan tersebut sebelumnya merupakan akses vital yang menghubungkan Kampuang Sawah Liek dengan Kampuang Alai dan Ladang Tinggi. Selain pelajar dari SDN 12 Limau Gadang Lumpo, jalur ini juga digunakan oleh masyarakat yang bekerja sebagai petani serta perangkat nagari dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pembangunan jembatan baru diperkirakan memakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan ke depan. Selama masa tersebut, warga dan pelajar harus beradaptasi dengan kondisi penyeberangan yang terbatas dan bergantung pada lori maupun cara manual lainnya.















