Setelah tahu dilaporkan ke polres, kata Hilmi, MA kabur dari Solok Selatan. Pihaknya mendapatkan informasi bahwa MA bersembunyi di Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Namun, pihaknya kesulitan melacak keberadaan MA.
“Meski dia kabur, kami tidak melupakan kasusnya. Pada awal Ramadan kemarin, kami mendapatkan informasi bahwa dia pulang ke rumah orang tuanya. Biasanya orang berkumpul di rumah orang tua pada awal Ramadan untuk melaksanakan puasa pertama,” tutur Hilmi.
Setelah mendapatkan informasi bahwa MA sudah berada di kampungnya, kata Hilmi, pihanya mengintai MA. Ia menceritakan bahwa pada Rabu (18/2/2026) MA tidur di rumah temannya. Pada Kamis (19/2/2026) MA pulang dari rumah temannya ke rumah orang tuanya di Jorong Sungai Landeh.
“Saat MA tiba di depan rumah orang tuanya, petugas langsung menangkapnya,” ucap Hilmi.
Hilmi mengatakan bahwa pihaknya menetapkan MA sebagai tersangka pencabul anak di bawah umur. Karena itu, pihaknya menjerat pemuda tersebut dengan Pasal 76E juncto Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang juncto Pasal 415 huruf b Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Hukum Pidana.
“Berdasarkan pasal-pasal itu, MA terancam hukuman 12 tahun penjara,” ujar Hilmi.
Hilmi menambahkan bahwa meskipun MA dan SM melakukan perbuatan mesum atas dasar suka sama suka, pelaku tetap dapat dihukum karena korban berusia di bawah umur atau di bawah usia 18 tahun. Ia menyebut bahwa anak di bawah umur masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab orang tuanya.
















