Ade juga membuka kemungkinan sinkhole tersebut tidak ditimbun, melainkan dirawat dan ditata secara khusus untuk dijadikan salah satu keunikan geodiversity. Menurutnya, kawasan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai objek wisata edukasi geologi, selama aspek keselamatan dan kajian teknis dipenuhi.
Saat ini, kata Ade, tim ahli masih menunggu hingga musim hujan berakhir untuk melihat perkembangan alami sinkhole, terutama terkait perubahan debit air dan stabilitas dinding lubang. Pengamatan ini dinilai penting sebelum menentukan langkah penanganan lanjutan.
Ia menyebutkan pengambilan sampel air dan pengamatan geologi permukaan telah dilakukan sebagai bagian dari tahapan awal kajian. Data awal tersebut menjadi dasar untuk memahami proses pembentukan sinkhole di kawasan tersebut.
Tahapan berikutnya, lanjut Ade, diperlukan survei pemetaan geologi bawah permukaan menggunakan metode geolistrik, georadar, serta metode geofisika lainnya. Survei ini bertujuan memetakan gambaran tiga dimensi bawah tanah, termasuk keberadaan rongga, gua, maupun sungai bawah tanah di kawasan Jorong Tepi, Kenagarian Situjuah Batua.
“Hasil kajian teknis ini diharapkan menjadi rujukan dalam menentukan penanganan sinkhole yang aman, terukur, dan berkelanjutan di Kabupaten Limapuluh Kota,” tutupnya.
















