Kabarminang — Danau Maninjau kembali berubah hijau pekat setelah hujan lebat mengguyur kawasan itu selama sepekan terakhir. Tingginya permukaan air disertai material lumpur dari sejumlah titik longsor di perbukitan sekitar danau membuat kondisi perairan memburuk dan memicu matinya ribuan ikan keramba milik warga.
Ikan mati terlihat jelas di beberapa lokasi, mulai dari tepian Nagari Maninjau hingga Sungai Batang. Bangkai ikan berserakan, sebagian tersangkut di keramba yang rusak diterjang hujan deras.
Yose, salah satu pemilik keramba yang terdampak, mengatakan produksi ikan nila tidak dapat diandalkan lagi sejak air danau berubah warna.
“Seminggu ini kami tidak bisa panen sama sekali. Air hijau, ikan mati, keramba banyak yang hancur,” ujarnya kepada Sumbarkita, Selasa (2/12).
Ia mengaku terpaksa merantau sementara ke Rao, Pasaman Barat, untuk mencari pekerjaan lain karena pendapatannya dari keramba mendadak hilang.
Dampak peristiwa ini juga dirasakan nelayan tradisional, Amaruddin. Ia menyebut sejak air danau berubah menjadi hijau pekat, hasil tangkapannya nyaris tidak ada selama beberapa hari terakhir.
“Biasanya masih ada ikan kecil-kecil nyangkut di jaring. Sekarang kosong. Waktu saya lihat ikan mati banyak di tepi danau, hati saya langsung jatuh,” katanya.
Amaruddin menambahkan, beberapa tetangganya mulai meninggalkan Maninjau sementara waktu untuk bekerja ke luar daerah.
















