Berdasarkan data Pos Pengamatan Gunungapi Marapi, erupsi yang terjadi Sabtu malam tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi 1 menit 19 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati secara visual karena erupsi terjadi pada malam hari.
Paparan abu vulkanik kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. Pemerintah Nagari Bukik Batabuah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga melakukan pendataan terhadap luas lahan pertanian yang terdampak.
Pembagian masker kepada warga mulai dilakukan pada Minggu pagi. Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi masih dipengaruhi sebaran abu vulkanik.
“Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, penggunaan alat pelindung diri menjadi hal wajib. Pelindung berupa masker serta kacamata harus dipakai untuk mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan iritasi mata,” kata Firdaus.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu dari Gunung Marapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan aktivitas di aliran sungai guna mengantisipasi potensi banjir lahar.
Firdaus mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi terkait aktivitas Gunung Marapi. Pemerintah nagari bersama relawan juga terus memantau kondisi di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan erupsi susulan.




















