Kabarminang – Menjelang sore, halaman Rektorat Universitas Negeri Padang (UNP) tidak hanya menjadi tempat orang lalu-lalang. Di satu sudut, beberapa buku terbuka. Sebagian peserta membaca dalam diam, sementara yang lain mulai terlibat dalam percakapan tentang gagasan dari buku yang baru mereka baca.
Tidak ada suasana kaku seperti ruang seminar. Buku-buku diletakkan di lapak yang bisa diakses siapa saja. Peserta datang, membaca, kemudian berbincang. Minggu (27/9/2026) sore itu, ruang terbuka tersebut menjadi tempat Komunitas Rumput Literasi menghidupkan kembali kebiasaan membaca melalui diskusi buku Prinsipil Ekonomi karya Ferry Irwandi.
Membaca di tempat itu tidak berhenti ketika halaman terakhir ditutup. Gagasan yang ditemukan dari buku justru menjadi awal percakapan.
Itulah cara Rumput Literasi melihat kegiatan membaca. Buku bukan benda yang selesai ketika dibaca, melainkan pintu masuk untuk bertukar pikiran, mempertanyakan gagasan, sekaligus mendengar sudut pandang orang lain.
Salah seorang penggagas Rumput Literasi, Farhan Pramudya, mengatakan komunitas tersebut lahir dari keresahan sekelompok anak muda yang sama-sama menghadapi persoalan sederhana: ingin membaca, tetapi sulit mempertahankan kebiasaan itu.
Distraksi, rasa bosan hingga kantuk, kata Farhan, sering kali membuat niat membaca berhenti di tengah jalan. Karena itu, mereka membutuhkan lingkungan yang dapat saling mengingatkan dan memberi dorongan agar tetap dekat dengan buku.
Dari kebutuhan tersebut, Rumput Literasi dibentuk pada 25 Mei 2025.
“Rumput Literasi resmi terbentuk pada 25 Mei 2025 tepat pukul 17.55 WIB, sehingga hari kelahirannya memiliki kaitan angka lima yang unik,” ujar Farhan.






















