Sejak saat itu, komunitas tersebut berkembang sebagai ruang berkumpul bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda. Tidak ada batas keanggotaan yang kaku. Seseorang yang pernah datang dan ikut dalam kegiatan Rumput Literasi sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga besar komunitas.
“Siapa saja yang pernah hadir dan ikut serta dalam kegiatan Rumput Literasi secara langsung dianggap sebagai bagian dari keluarga besar komunitas,” kata Farhan.
Membaca Tidak Harus Sendirian
Ada anggapan bahwa membaca merupakan aktivitas yang cenderung sunyi dan individual. Rumput Literasi mencoba menawarkan pengalaman berbeda.
Bagi komunitas tersebut, seseorang boleh membaca sendirian, tetapi gagasan yang diperoleh dari buku tidak harus disimpan sendiri. Setelah membaca, ada ruang untuk bertanya, berbeda pendapat, bahkan menguji kembali pemahaman terhadap isi buku.
“Bagi Rumput Literasi, gagasan yang didapat dari lembaran buku tidak cukup hanya dibaca, melainkan perlu dialirkan ke ruang diskusi agar dapat diuji dari beragam sudut pandang,” ujar Farhan.
Karena itu, kegiatan Rumput Literasi tidak hanya berupa diskusi buku. Ada lapak baca gratis, silent reading, bedah buku, hingga ruang diskusi terbuka.
Pendekatan tersebut juga membuat komunitas ini tidak hanya ditujukan bagi orang yang sudah terbiasa membaca. Mereka yang baru mulai membaca tetap memiliki tempat untuk datang dan belajar.
Untuk membantu masyarakat membangun kebiasaan tersebut, Rumput Literasi juga menghadirkan Bank of Books, perpustakaan bergerak yang memungkinkan buku dipinjam maupun dititipkan secara fleksibel.






















