Ruang Aman untuk Berpikir
Bagi pemantik diskusi, Ari Kurniawan, keberadaan komunitas semacam Rumput Literasi bukan semata-mata tentang seberapa banyak orang yang datang. Yang lebih penting, menurutnya, adalah tersedianya ruang untuk menyampaikan pemikiran tanpa harus merasa takut salah.
Ruang semacam itu memungkinkan sebuah gagasan dibicarakan dari berbagai sisi. Buku menjadi titik temu, sementara percakapan menjadi cara untuk memperluas pemahaman.
“Walaupun gerakan literasi seperti ini tidak selalu memiliki banyak pengikut, kami percaya bahwa perubahan sekecil apa pun tetap memiliki arti yang bermakna,” ungkap Ari.
Pandangan itu terasa dalam kegiatan sore tersebut. Tidak semua peserta datang dengan tingkat kebiasaan membaca yang sama. Ada yang sudah akrab dengan buku, ada pula yang masih belajar menikmati aktivitas membaca.
Dayu Refani, salah seorang peserta, merasakan manfaat dari pola belajar bersama tersebut. Baginya, diskusi membuat buku lebih mudah dipahami, terutama bagi orang yang belum terbiasa membaca secara mandiri.
“Di komunitas ini, orang yang belum terbiasa membaca pun tetap bisa paham isi buku karena ada pendampingan dan ruang diskusi bersama kawan-kawan,” tutur Fani.
Lebih dari setahun sejak berdiri, Rumput Literasi terus menjaga pertemuan-pertemuan tersebut. Lingkaran kecil pembaca itu perlahan menjadi ruang perjumpaan bagi orang-orang yang ingin membaca, berbicara, dan mendengar.
Di tengah derasnya distraksi, mungkin gerakan seperti ini memang tidak selalu terlihat besar. Tidak ada kerumunan ribuan orang atau panggung megah. Hanya buku, beberapa orang, dan percakapan yang berlangsung dari satu gagasan ke gagasan lain. Namun, dari ruang sederhana itulah kebiasaan membaca dirawat satu halaman, satu percakapan, dan satu pertemuan pada satu waktu.






















