Kabarminang — Kualitas udara Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat berdasarkan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Jumat (4/9/2026).
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Desrizal, mengatakan bahwa pihaknya memantau kondisi kualitas udara itu melalui Stasiun Padang Pasir, Kota Padang, yang terhubung dengan sistem pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
“Pemantauan pada Jumat ini dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 19.00 WIB. Dari pemantauan tersebut, nilai ISPU PM2,5 berada pada rentang 153 hingga 276,” tutur Desrizal pada Jumat (4/9/2026)
Desrizal mengatakan bahwa nilai ISPU terendah tercatat 153 pada pukul 03.00 WIB. Berdasarkan kategori ISPU yang ditampilkan DLH Sumbar, angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Sementara itu, kata Desrizal, nilai ISPU tertinggi mencapai 276 pada pukul 07.00 WIB dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Desrizal mengatakan bahwa pergerakan ISPU berubah cukup signifikan sejak tengah malam. Pada pukul 00.00 WIB, nilai ISPU tercatat 186, kemudian meningkat menjadi 207 pada pukul 01.00 WIB dan 226 pada pukul 02.00 WIB. Nilai tersebut kemudian turun menjadi 153 pada pukul 03.00 WIB. Setelah itu, ISPU kembali meningkat menjadi 267 pada pukul 04.00 WIB, 273 pada pukul 05.00 WIB, dan 275 pada pukul 06.00 WIB.
Setelah itu, kata Desrizal, nilai ISPU mulai menurun. Pada pukul 09.00 WIB tercatat 195, kemudian berada pada kisaran 181 hingga 195 hingga pemantauan pukul 19.00 WIB.
Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi hingga siang hari.
Ia juga meminta masyarakat menggunakan masker apabila harus melakukan aktivitas di luar rumah. Selain itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sampah dan lahan serta menghindari aktivitas fisik yang berat di luar ruangan.
Selain itu, Desrizal mengingatkan kelompok yang rentan terhadap dampak kualitas udara untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan dan menjaga kesehatan.
Dalam keterangan pemantauan tersebut, kondisi kualitas udara disebut diduga dipengaruhi kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera bagian tengah serta kondisi angin yang lemah.















