Kabarminang – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Sumatera Barat. Seorang siswa SMP asal Kota Bukittinggi berhasil mengharumkan nama daerah setelah memborong tiga penghargaan pada ajang International Islamic University Malaysia Robotic Competition (IIUMRC) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 24–26 Juli 2026.
Siswa tersebut adalah Muhammad Habibi Rabbani, pelajar SMP Negeri 1 Bukittinggi. Pada kompetisi robotik internasional yang diikuti peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, China, dan Iran itu, Habibi berhasil meraih Bronze Secondary Creative, 2nd Runner Up Maze Solving atau juara ketiga pada kategori tersebut, serta Excellent Award pada kategori Soccer Robot.

Kepala SMP Negeri 1 Bukittinggi, Neldawati, mengaku bangga atas prestasi yang diraih salah seorang siswanya itu. Menurutnya, keberhasilan Habibi menjadi kebanggaan tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi masyarakat Sumatera Barat.
“Kami dari pihak sekolah sangat bangga sekali dengan prestasi yang diraih Habibi pada ajang robotik di Malaysia kemarin,” kata Neldawati, Jumat (7/8/2026).
Ia menjelaskan, keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Habibi selama ini menjalani pembinaan robotik melalui sebuah yayasan yang bergerak di bidang teknologi bersama dukungan penuh dari orang tua. Sementara itu, pihak sekolah memberikan kesempatan dan dukungan agar ia dapat mempersiapkan diri hingga mengikuti kompetisi internasional tersebut.
Menurut Neldawati, SMP Negeri 1 Bukittinggi sebenarnya telah memiliki kegiatan ekstrakurikuler robotik selama sekitar tiga tahun. Namun, selama ini ekstrakurikuler tersebut belum pernah mengirimkan peserta ke ajang perlombaan, terlebih lagi pada tingkat internasional. Karena itu, prestasi Habibi menjadi momentum penting untuk membangkitkan semangat pengembangan robotik di lingkungan sekolah.

“Kalau di SMPN 1 sudah tiga tahun ada ekstrakurikuler robotik. Memang selama ini belum pernah mengikuti perlombaan di bidang robotik,” ujarnya.
Prestasi yang diraih Habibi juga menjadi bahan evaluasi bagi sekolah. Menurut Neldawati, kemampuan teknis siswa dalam merancang dan memahami robot sudah sangat baik. Namun, pengalaman di Malaysia menunjukkan masih ada aspek yang perlu diperkuat, yakni kemampuan mempresentasikan karya menggunakan bahasa Inggris di hadapan dewan juri internasional.















