Kabarminang — Rumah itu berdiri sunyi di Jorong Anakan, Nagari Koto Nan Duo IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas, Pesisir Selatan. Dari kejauhan, ia tampak seperti bangunan tua yang tersisa dari masa lalu. Bangunan itu tak mencolok, tak pula menarik perhatian. Namun, ketika didekati, rumah itu bercerita lebih banyak.
Dinding-dindingnya menghitam seperti kulit yang lama terpapar matahari. Ada bagian renggang, berlubang, nyaris tak lagi saling menopang. Atap seng bocor di banyak sisi. Bekas tetesan air hujan mengering di lantai yang dingin, menjadi saksi bagaimana rumah itu bertahan, bukan hidup.
Di rumah itulah M. Yusak (83) menjalani hari-harinya. Tubuhnya kurus, punggungnya sedikit membungkuk. Langkahnya goyah ketika berdiri di depan pintu.
Saat ditanya bagaimana keluarga itu memenuhi kebutuhan air bersih, Yusak mengatakan bahwa ia menampung air hujan. Kalau hujan tidak turun, ia tidak mendapatkan air bersih. Jawaban itu cukup untuk menggambarkan bahwa penghuni rumah itu bergantung sepenuhnya pada langit untuk mendapatkan air bersih.
Yusak lahir pada 1 Juli 1942. Usia telah melemahkan tubuhnya, tetapi ingatannya masih utuh. Ia masih mengingat masa ketika dirinya kuat, ketika harapan belum sepenuhnya runtuh.
Dulu, ia memilih merantau. Namun, sakit dan usia memaksanya pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong. Sejak itu, hidup seperti berhenti di satu titik: tak pernah benar-benar bangkit, hanya bertahan.
Di salah satu ruangan rumah, beberapa mesin jahit tua berjajar. Catnya mengelupas, besinya berkarat. Benang-benang kusut menggantung tanpa arah. Tumpukan kain sisa tertimbun debu, tak lagi disentuh.
“Dulu kami menjahit. Sedikit-sedikit untuk makan,” ujar Yusak pada Senin (26/1/2026).















