Kabarminang – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Pulau Sumatera. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan lonjakan titik panas (hotspot) di sejumlah provinsi pada Sabtu, 12 Juli 2025.
Berdasarkan data BMKG hingga Jumat (11/7) pukul 23.00 WIB, terpantau 94 titik panas di berbagai wilayah Sumatera. Sumatera Utara mencatat jumlah tertinggi dengan 46 titik, disusul Riau sebanyak 38 titik. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding hari-hari sebelumnya.
Titik panas lainnya tersebar di Aceh sebanyak 3 titik, Sumatera Barat 3 titik, Lampung 2 titik, serta masing-masing satu titik di Jambi dan Bangka Belitung. Titik panas umumnya mengindikasikan potensi kebakaran lahan, terutama saat cuaca dalam kondisi panas dan kering.
Petugas BMKG Pekanbaru, Yudhistira, menyatakan bahwa sebagian besar wilayah di Riau dan Sumatera bagian utara sedang memasuki fase cuaca kering yang rawan memicu kebakaran. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan semua pihak terhadap potensi karhutla.
“Kami mengimbau pemerintah daerah, masyarakat, dan semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan. Pencegahan dini sangat penting untuk mengendalikan potensi karhutla,” ujar Yudhistira dalam keterangannya.
BMKG juga meminta satuan tugas (satgas) pengendalian karhutla di daerah, khususnya Riau, agar segera mengintensifkan patroli darat maupun udara. Deteksi dini dan respons cepat menjadi kunci utama mencegah kebakaran meluas.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Tindakan ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga berisiko menciptakan kebakaran besar yang sulit dikendalikan dan berdampak buruk terhadap kesehatan serta lingkungan.
Pemerintah daerah diminta mengaktifkan kembali posko pengendalian karhutla serta memastikan seluruh peralatan dan personel siaga. BMKG akan terus memantau perkembangan hotspot dan mengeluarkan peringatan dini apabila situasi memburuk.