“Satu angka tidak pernah mewakili kondisi udara seluruh kota. Menyimpulkan udara Padang aman atau buruk hanya dari satu titik pemantauan adalah keliru karena polusi udara memiliki pola ruang yang bervariasi,” tutur Timtim.
Dipengaruhi Angin hingga Aktivitas Pembakaran
Timtim menjelaskan, pergerakan partikulat di udara dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari angin, temperatur, kelembapan, topografi hingga tutupan lahan.
Selain faktor alam, aktivitas transportasi, pembakaran terbuka serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga dapat memengaruhi kualitas udara di lokasi tertentu.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan fenomena haze yang terjadi di Padang sebagai dampak karhutla tanpa didukung pembuktian ilmiah.
Menurutnya, penentuan sumber polutan membutuhkan verifikasi terhadap data titik panas (hotspot), arah angin, citra aerosol hingga analisis pergerakan massa udara.
“Untuk menentukan sumber polutan, kita perlu melihat berbagai data secara bersama-sama, bukan hanya berdasarkan kondisi udara yang terlihat secara kasatmata,” ujarnya.
Timtim menilai pendekatan pemetaan ruang yang selama ini digunakan dalam penanganan bencana banjir juga perlu diterapkan dalam pengelolaan kualitas udara.
Jika penanganan banjir mempertimbangkan daerah aliran sungai dan kondisi topografi, maka pengelolaan kualitas udara perlu mengintegrasikan data PM2.5 dengan kepadatan lalu lintas, kawasan industri, permukiman dan faktor lainnya.
















