Pagi hari ia membawa bendera dari rumah menggunakan becak motor keluarganya. Suaminya membantu membawa barang dagangan tersebut sebelum pergi bekerja sebagai buruh bangunan di sekitar Universitas Negeri Padang.
Bagi Suci, kondisi penjualan yang sepi menjadi persoalan tersendiri. Selain pendapatan dari bendera yang tidak menentu, ia harus memenuhi kebutuhan keluarga di tengah harga sejumlah kebutuhan yang menurutnya semakin meningkat.
“Karena sepinya jual beli, saya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan, terlebih sekarang banyak harga kebutuhan yang naik,” tutur Suci.
Suci dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sewa Rp600 ribu tiap bulan. Karena itu, penghasilan dari berjualan bendera menjadi salah satu sumber tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Meski penjualan belum sesuai harapan, Suci masih terus membuka lapaknya setiap hari. Di bawah pohon rindang di pinggir Jalan Khatib Sulaiman itu, ia menunggu pembeli yang datang hingga sore, bersama dua anaknya yang selalu menemani.
















