Bahkan, dalam sepekan selama berjualan, Suci pernah tidak mendapatkan pembeli sama sekali. Pada hari itu, misalnya, hanya dua bendera rumah yang terjual.
Kondisi tersebut membuat pendapatan Suci dari berjualan bendera belum banyak. Ia menyebut keuntungan yang diperoleh rata-rata sekitar Rp35 ribu dalam sehari ketika ada barang yang terjual.
Suci mengatakan bahwa ia merasakan sepinya pembeli itu dalam dua tahun terakhir. Ia menduga salah satu penyebabnya ialah tidak adanya imbauan seperti tahun-tahun sebelumnya mengenai pemasangan bendera di setiap rumah.
“Mungkin pengaruhnya itu dulu ada imbauan dari pemerintah untuk setiap rumah memasang bendera, tapi tahun ini tidak ada imbauan,” ujar warga Balai Baru, Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Di tengah sepinya pembeli, Suci tetap bertahan berjualan. Ia berharap bahwa penghasilan dari penjualan dappat membantu menambah pemasukan keluarga.
Suami Suci bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan sekitar Rp120 ribu per hari. Namun, penghasilan tersebut tidak selalu didapatkan karena bergantung pada ada atau tidaknya proyek yang dikerjakan.
Sebelum memasuki musim berjualan bendera, Suci biasanya menjalankan usaha kecil-kecilan dari rumah dengan menjual barang kebutuhan anak sekolah yang harganya sekitar Rp1 ribu.
Selama berjualan bendera, Suci juga tidak meninggalkan kedua anaknya. Setiap hari ia membawa anak pertamanya, Alfi (4 tahun), dan anak keduanya, Alina (10 bulan), ke tempat berjualan.
















