Bagi Mardiani dan suaminya, keberhasilan putra mereka menjadi kebahagiaan sekaligus tantangan. Kesempatan yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun itu kini tinggal selangkah lagi, tetapi kebutuhan biaya keberangkatan masih belum terpenuhi.
“Keluarga masih kekurangan sekitar Rp36 juta untuk biaya keberangkatan Heldiansyah,” demikian persoalan yang dihadapi keluarga tersebut.
Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu tantangan dalam memenuhi kebutuhan itu. Suami Mardiani sehari-hari berjualan es kelapa muda di depan SPBU Batang Lingkin, Pasaman Barat, dengan penghasilan kotor sekitar Rp200 ribu per hari.
Sementara itu, Mardiani merupakan ibu rumah tangga. Penghasilan suaminya harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Heldiansyah merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Kakak perempuannya saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (Unair). Adapun tiga adiknya, yang terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki, masih bersekolah.
Selain lima anaknya, suami Mardiani juga menanggung seorang anak laki-laki dari saudaranya. Anak tersebut kini ikut membantu keluarga mereka berjualan.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Mardiani dan suaminya tetap berusaha memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak mereka. Ia mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraih anak-anaknya dan berharap mereka dapat mewujudkan cita-cita masing-masing.
“Saya sangat bersyukur dengan pencapaian anak-anak. Saya dan suami akan terus berjuang dan berusaha bagaimanapun caranya agar anak-anak bisa mewujudkan cita-citanya dan sukses,” ujar Mardiani.





















