Menekuni Puisi Sejak SMP
Ketertarikan Septa terhadap puisi tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Minat itu terus berkembang ketika memasuki sekolah menengah atas (SMA), termasuk saat ia berhasil meraih juara dalam lomba cipta puisi.
Kecintaannya terhadap puisi berlanjut ketika menempuh pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia UNP. Selama kuliah, ia juga mengikuti sejumlah perlombaan puisi tingkat nasional.
Bagi Septa, puisi bukan sekadar karya tulis, melainkan ruang untuk menyalurkan perasaan dan emosi sekaligus menerapkan pengetahuan sastra yang dipelajarinya selama kuliah.
“Saya memilih cabang penulisan puisi karena menulis sudah menjadi passion saya sejak SMP. Minat ini terus berkembang saat SMA di mana saya pernah meraih juara cipta puisi, hingga berlanjut di bangku kuliah dengan beberapa kali memenangkan lomba puisi tingkat nasional,” katanya.
Ia menilai Peksiminas sebagai kesempatan untuk menguji kemampuan diri sekaligus membawa nama baik kampus dan daerah asal di tingkat nasional.
“Saya mengikuti PEKSIMINAS XVIII karena ajang ini merupakan kompetisi seni tertinggi dan paling bergengsi bagi mahasiswa tingkat nasional. Sebagai mahasiswi Sastra Indonesia, saya ingin menantang diri, membawa nama baik kampus serta daerah asal, dan menguji konsistensi bakat menulis saya di panggung nasional,” ujarnya.
Peksiminas merupakan ajang seni mahasiswa tingkat nasional yang diselenggarakan setiap dua tahun. Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan provinsi di Indonesia.
Peksiminas XVIII diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Diktisaintek), bekerja sama dengan Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) serta Pengurus Provinsi BPSMI Jawa Timur sebagai tuan rumah pelaksana.






















