Menurut Septa, pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kesempatan berikutnya harus dipersiapkan dengan lebih matang. Ia pun terus menempa diri hingga akhirnya berhasil mewakili Sumatera Barat dan meraih Juara III Peksiminas XVIII 2026.
Berlatih Puisi di Tengah Kesibukan PKL
Perjalanan Septa menuju panggung nasional juga diwarnai tantangan dalam membagi waktu. Setelah Peksimida Sumatera Barat pada akhir Juli 2026, ia hanya memiliki waktu sekitar satu bulan untuk menjalani persiapan intensif sebelum bertanding di Jember pada September.
Masa persiapan tersebut bertepatan dengan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Untuk menyiasatinya, Septa memanfaatkan waktu luang di sela-sela kegiatan PKL untuk membaca berbagai karya puisi.
Ia juga menggunakan waktu bekerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk berlatih langsung bersama dosen di kampus. Selain itu, ia mengikuti bimbingan dengan mentor melalui Zoom hingga malam hari.
Persiapan tersebut penting karena perlombaan mengharuskan peserta menulis puisi secara mandiri berdasarkan tema yang diberikan langsung di lokasi.
Septa menjelaskan, peserta diberi waktu sekitar enam jam untuk menulis puisi dengan tangan. Tema baru disampaikan oleh tiga dewan juri di tempat perlombaan. Sementara itu, telepon genggam peserta dikumpulkan panitia hingga kompetisi berakhir sehingga mereka tidak dapat mengakses internet selama proses penulisan.
Kondisi tersebut menuntut peserta mampu mengembangkan gagasan, menjaga konsentrasi, dan menyelesaikan karya dalam waktu yang telah ditentukan.
“Tantangan terbesarnya adalah tekanan waktu dan kekhawatiran karya tidak selesai secara maksimal. Di bawah tekanan durasi tersebut, ketakutan terbesar saya adalah mengalami blank, hilang arah di tengah-tengah penulisan, atau gagasan puisi yang dituangkan tidak sesuai dengan harapan,” tuturnya.





















