Budi mengatakan, keterbatasan pendidikan dan tidak adanya keterampilan khusus membuatnya memilih pekerjaan sebagai pemulung.
Setiap hari, Budi biasanya keluar dari rumah sekitar pukul 08.00 WIB. Ia bekerja hingga sekitar pukul 22.00 WIB dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobaknya.
Gerobak tersebut dibuat dari material bekas seperti balok kayu, seng, dan paku yang ditemukannya dari barang-barang yang telah dibuang.
“Yang penting bisa dipakai membawa barang bekas,” ujar Budi.
Penghasilan Rp450 Ribu-Rp500 Ribu Sebulan
Dari barang bekas yang dikumpulkannya, Budi hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
Penghasilan tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar kontrakan yang ditempatinya seorang diri. Biaya kontrakan itu mencapai Rp500 ribu per bulan.
Untuk makan, Budi harus menyesuaikan dengan kondisi keuangannya. Ketika memiliki uang, ia biasanya membeli gorengan. Sesekali, warga juga memberikan makanan kepadanya.
“Kalau ada uang, paling beli gorengan saja sudah kenyang. Kadang ada warga yang memberikan makanan, ya kalau tidak ada sama sekali, tidak ada makan apa-apa,” katanya.
Saat ditemui Sumbarkita hingga sore hari, barang yang terkumpul di dalam gerobaknya belum terlihat banyak. Beberapa botol minuman, gelas plastik, kardus, dan kantong plastik berada di dalam gerobak yang terus didorongnya menyusuri jalan.
















